Berani Benjol

Posted on Art | No Comments

jou_20161013_btshome-30_1200x800

Sebagai penutup tahun 2016, saya ingin menghaturkan rasa terima kasih kepada semua teman-teman tercinta yang menghargai proses kerja dan karya seni yang saya ciptakan melalui ‘Tulisan’. Ide dasar sampai buah akhirnya merupakan kristalisasi keringat dari seluruh anggota Tulisan, yang hanya tersusun dari 25 orang yang mengolah sektor seni, produksi, logistik, pemasaran, dan pelayanan. 

Seperti banyak kendala yang dialami banyak organisasi kecil ataupun bengkel seni di Jakarta, saya dan ‘Tulisan’ selalu menghadapi gelombang krisis dan berbagai bentuk kesalahan. Saya belajar bahwa setiap gelombang krisis dengan segala kesalahan yang terkait harus selalu ditinjau dan diotopsi, supaya kita bisa melangkah ke arah yang lebih progresif. Melalui otopsi, saya merasakan bagaimana sukarnya untuk mengakui kesalahan itu sebagai bagian dari kehidupan–suatu sikap yang sangat tidak nyaman. Sikap ini meruntuhkan ego secara brutal. Kasarnya, ini seperti memberanikan diri saya untuk jatuh dan tampil benjol di hadapan khalayak. 

Rasa tidak nyaman untuk ‘berani benjol’ ini baru gejala awal. Langkah berikutnya lebih sukar lagi. Langkah berikut adalah untuk membereskan kesalahan di dalam diri kita, tanpa menghakimi pihak lain. Di zaman yang ruwet dan berjalan kilat seperti saat ini, tidak cukup untuk menghapus kesalahan dan merevisi tindakan lampau kita. Di ‘Tulisan’ dan untuk pribadi saya sendiri, saya menekankan untuk tidak membuang waktu menoleh ke masa lampau dan memperhatikan kelemahan kita, melainkan untuk mengubah setiap kelemahan menjadi suatu keperkasaan. Ada kalanya kesalahan justru harus dipakai di muka jidat, sampai kita sanggup melihat dengan kacamata lain bahwa kesalahan adalah suatu bagian dari gerakan hidup yang juga harus kita rangkul. Lebih baik menjadi buruk rupa, daripada menjadi banal.

Sejujurnya, perspektif inilah yang membantu pencapaian ‘Tulisan’ sampai titik ini. Organisasi ini bukan dibangun dengan modal yang besar ataupun kelompok akademisi yang berprestasi. ‘Tulisan’ adalah sekumpulan individu yang jujur dan percaya terhadap suatu harapan dalam setiap kesempitan. Nilai yang kita junjung adalah substansi dan progres. Dua hal ini berada di atas klasifikasi ‘benar atau salah’, yang biasanya terbit dari pola kebiasaan dalam masyarakat.

Saya tidak dididik secara formal sebagai penulis, penjahit, penari, pelukis, ataupun menjadi seorang ibu untuk dua anak. Semua keahlian ini saya pupuk secara bertahap melalui serangkaian pengalaman yang penuh kesalahan. Bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris juga bukan bidang yang saya kuasai secara total. Sungguh banyak sekali cacat dalam berbahasa yang bisa dihitung dan ditertawakan dalam keseharian saya. Saya menyadari bahwa saya adalah makhluk yang tidak luput dari kematian, penuaan, dan penurunan kapasitas. 

Dari titik ini, saya mendorong diri saya dan organisasi ‘Tulisan’ untuk terus mengadakan eksperimentasi untuk suatu pembaharuan. Berdasarkan arah langkah yang kita sepakati bersama di dalam organisasi ini, saya dan teman-teman di ‘Tulisan’ akan sering menjadi benjol dari kesalahan kita. Lebih baik benjol, daripada tidak pernah mencoba untuk mengambil lompatan yang spontan.

Saya tidak akan memungkiri kesalahan dalam aturan penulisan, perkataan, perancangan, perwujudan ataupun pelayanan. Ketidak-sempurnaan ini adalah kemungkinan untuk menjadi manifestasi yang lebih baik dari diri kita. Persaudaraan saya dengan para anggota organisasi ini telah menjadi suatu tekad bulat untuk mempersembahkan yang terbaik dan mempertimbangkan proses kerja kita supaya dampak buruk terhadap lingkungan menjadi seminimal mungkin. 

Kita bertekad untuk memperbaiki langkah selanjutnya dengan menelusuri segala macam bentuk kesalahan yang terlihat ataupun yang terlewat. Saya berharap persembahan kita di tahun 2017 menjadi marka progres yang berarti ketika menjajaki usia organisasi dalam tahun ke-8. Saya ingin membiarkan kesalahan dan kemajemukan di antara kita menjadi nada warna kontras yang memberi senyuman untuk dunia baru. Peluk, cium, dan sujud saya untuk semua teman yang telah menghargai kerja keras kita.


jou_20161013_btshome-230_800x1200

(EN)

As a closure in 2016, I wish to express my gratitude to all beloved friends who have appreciated our work process and artwork I created through ‘Tulisan’. The basic idea to the final result have been created with sweat from all members of ‘Tulisan’, formed by 25 people handling art, production, logistic, marketing, and service. 

Similar to many small organizations or creative atelier in Jakarta, ‘Tulisan’ and I also constantly face waves of crisis and mistakes in all forms. I have learnt that each crisis and its related mistakes need to be examined and dissected, so that we can step to a more progressive direction. Through an autopsy of every condition, I have also experienced the difficulty of accepting mistakes as part of life–a very uncomfortable attitude. This approach deforms any ego brutally. It is roughly like an act of empowering myself to fall and get bruised in front of public. 

The uncomfortable feeling of being bruised is only an early symptom, but the next step is even harder. The next step is to clean-up the mistakes within ourselves, without judging others. In this period of chaos and speed, it is no longer enough to white-out our mistakes and to revise our past actions. In ‘Tulisan’ and for my personal development, I underline the importance of not wasting time in looking back to our past and in focusing to our weakness, but to transform that very weakness to be our strengths. There are times that we need to wear the mistakes on our forehead until we are able to see through a different perspective that mistakes are part of a moving life which we need to embrace. To be ugly is better than to be banal.

Honestly, this perspective has helped our achievements in ‘Tulisan’ until this point. This organization was not built with a huge capital, nor with a group of scholars with notable academic credentials. However, ‘Tulisan’ are a collective of honest individuals who believe in hope amongst despairs. The values that we uphold are within the substance and the progress. The two stand above classification of ‘true or fault’, which are the by-product of social behaviors.

I was never formally educated to be a writer, a seamstress, a dancer, a painter, or to be a mother of two kids. I developed these skills in phases through a series of experiences, enriched with mistakes. Indonesian language or English language are not areas that I master totally. In truth, there are many linguistic errors that can be noted and mocked at during my daily routines. I am aware that I am a creature that will not escape death, age and declines. 

From this point, I pushed myself and my organization ‘Tulisan’ to continue experimenting for an advancement. Based on this committed direction, my friends in ‘Tulisan’ and I often get bruised from our mistakes. It is always better to be bruised than to never try to take a spontaneous leap. 

I will never deny any mistakes from breaking some rules of conduct in literature, conversation, design, production, and services. These imperfections are possibilities to be the better manifestation of ourselves. The brother-sister-hood I have stitched with all members of this organization is a solemn promise to present the best to our community and to always consider the minimum impact of our work process towards our environment.

We are dedicated to make better actions by examining all forms of mistakes that are visible and non-visible. I wish that what we will be presenting in 2017 will mark a significant progress, as we stepped into the 8th year of our organization. I wish to allow flaws and diversities amongst us to become contrasting tones of colors which bring a smile to the new world. My hug, kiss, and honor to all our friends who have appreciated our hard work.

fullsizerender_1200x1200

Triple kisses,

Melissa Sunjaya
Founding Artist of Tulisan


Instagram: @mytulisan
Facebook: Tulisan
Twitter: @mytulisan
Youtube Channel: Tulisan Jakarta

Photography by Krishni Swandayani

Tulisan Chronicles Team

This entry was posted in Art. Bookmark the permalink.

write your comment